Alengka Jiwa

19 October 2006

Deteksi Dini Neraka Atau Siksa

Pernyataan bahwa neraka, siksa atau tidak siksa di akhirat nanti bisa dideteksi dini sejak sekarang mungkin agak menantang arus mainstream yang bergerak di masyarakat. Tapi pernyataan bahwa "Kita masuk neraka atau tidak masuk neraka itu bisa dideteksi sekarang ini" merupakan sebuah alat kontrol pribadi yang cukup punya pengaruh signifikan bagi manusia. Jadi masalah masuk neraka atau tidak neraka itu bukan GAMBLING lagi.

Dasarnya apa....? SHALAT....!.

Dengan SHALAT orang SEHARUSNYA sudah bisa mendeteksi bahwa saya akan tersiksa atau tidak. Jangan itu hanya harapan-harapan saja bahwa semoga saya nanti tidak tersiksa. Sekarang saja bisa diketahui sebenarnya. Sekarang ini bagaimana..?. Ada masalah sedikit (relatif) saja sudah gelisah. Itu sudah siksaan sebenarnya. Gelisah itu, atau punya masalah itu kan kecil hakikatnya. Yang diombang-ambingkan adalah PERASAAN kita, HATI kita. Itu saja sudah sakit rasanya bahkan bisa mati akibatnya. Tambahan lagi ada yang dengan sengaja menimbulkan kemarahan dan benci dihatinya. Huh......., barang yang kecil begitu saja sudah menimbulkan siksa di diri kita atau membuat kita kelimpungan. Padahal Rasulullah menggambarkan SIKSA akhirat itu lebih dahsyat lagi.

Sesungguhnya wali-wali Allah itu dia tidak merasa khawatir dan tidak merasa takut.

Khawatir itu ada dimana..?. Di DADA.
Musibah itu ada dimana..?. Di HATI.
Sehingga wali-wali Allah itu PULANG, “innalillahi wainna ilaihi raji'un". Jadi wali-wali Allah itu "kembali ke Allah".
Dia tinggalkan tempat gelisah itu, dia tinggalkan tempat neraka itu, HATI. Mereka pergi ke Allah.
Kenapa...?.
Karena dada, shuduur, hati itu adalah TUNGKU PERAPIAN di dunia ini. TUNGKU KEGELISAHAN itu ada di dada ini. Tungku itu yang membuat kita gelisah, tersiksa, tertekan, terombang-ambing. Lihat juga artikel "TIDAK TAHU" tentang tersekat di aliran rasa. Nah seorang wali atau kekasih Allah ketika dia merasakan pengaruh jelek di tungku itu, maka dia tinggalkan tungku itu. Karena disitu bukan tempat mereka.

Kalau begitu dimana tempat mereka...?. Innalillahi wainna ilaihi raji'un..., tempat mereka disisi TUHAN. Mereka berada "dekat" dengan ALLAH.

Pada posisi di sisi Tuhan ini, maka tidak ada rasa gelisah, tidak ada rasa khawatir. Itulah posisi tempat keberadaan Nabi-Nabi, wali-wali Allah. Keadaan ini paling tidak untuk memberikan gambaran kepada kita bahwa kita itu masuk neraka atau tidak...... Makanya seorang syuhada (sang penyaksi) tidak mendapatkan siksa kubur, dia tidak di hisab, sehingga dia lepas langsung ke sisi Allah.....

Nah, kenapa kita tidak pakai fasilitas VIP ini? Kenapa kita harus pakai fasilitas konvensional?

Anda harus merasakan sakit dulu di tubuh kita, yang merupakan siksa pertama. Kemudian tubuh ini kita tinggalkan. Kita nggak terasa lagi bahwa tubuh kita dimakan ulat, dimakan anjing, atau kanker ganas, karena kita sudah tidak berada lagi di tubuh itu. Lalu kita masuk ke alam kubur, alam barzah. Ketika di alam barzah itu saya nggak tahu lagi bahwa tubuh saya sudah dimakan ulat, tinggal kerangka, karena saya bukan berada di tubuh itu lagi.

Masalahnya adalah kenapa harus berada di barzah. Di barzah itu ada siksa. Ada neraka.
Harusnya bagaimana....?. Kita tinggalkan barzah itu. Innalillahi wainna ilaihi raji'un. LEPAS MENUJU ALLAH. Karena saya berasal dari Allah, maka saya kembali kepada Allah. Prinsip inilah yang dipakai untuk mendeteksi siksa neraka atau tidak. Jangan GAMBLING. Jangan pakai hitung-hitungan. Waaa…..., saya sudah melakukan ibadah ini, saya sudah wirid ini, saya sudah binding ke sana sini. Biar saya tersiksa, biar saya gelisah, biar saya tertekan didunia ini, asal NANTI di akhirat nggak tersiksa. Wooo...., itu MENGKHAYAL namanya. Cirinya itu ada disini, didunia ini.

Padahal di dunia ini belum ada apa-apanya. Sampai-sampai Rasulullah menggambarkan begitu dahsyatnya siksa akhirat itu. Di sini saja, di dunia ini saya sudah tidak kuat, apalagi di sana.... Masalah anak, istri, pekerjaan, masa lalu yang gelap dan berdarah-darah saja masih membuat kita terombang-ambing nggak karuan.

Nah "Latihan tanpa Hisab itu apa.....? SHALAT.

Target atau motivasinya ada.... ? Tanpa hisab, mi'raj. Fasilitasnya ada kok disediakan Allah.

Kontrolnya apa....? Coba lihat dalam satu hari ini, walaupun saya sudah shalat, apakah saya masih gelisah, tersiksa, ngedumel, atau sudah "la khaufun 'alaihim walaa hum yahzanuun".

Kalau masih gelisah, tersiksa, maka saya berarti masih DEKAT ke NERAKA.
Maka latihlah terus, berusahalah terus untuk menanggalkan alam-alam siksa itu sehingga HANYA ALLAH yang kita tuju.....

Innalillahi wainna ilahi raji'un.........

KOSONG...... NOL......



( Kumpulan Artikel Ustadz Deka )